MENYINGKAP KAREN

FONT COLOR=”yellow”>PERAWAT ITU berkali-kali memanggilku Karen sehingga aku berpikir bahwa itu pasti namaku. Aku tahu aku berada di rumah sakit, tapi tidak tahu alasannya. Perban membalut perutku, dan dadaku terasa sakit saat aku bernapas. Aku berbaring di ranjang selama beberapa waktu diam, ketakutan, dan merasa kesepian di dalam sebuah dunia yang tak bisa kujelaskan. Aku takut akan kehilangan akal sehatku.
Aku dipindahkan ke sebuah ruangan lain. Kupikir aku tentu baru saja melahirkan karena adanya perban di perutku dan aku melihat para ibu beserta bayi-bayi mereka di lantai yang sama. Seorang perawat muncul dan memeriksa luka di balik perbanku. Luka itu sepanjang lima belas senti, terletak tepat di atas tulang kemaluanku, dan jahitannya tampak seperti seringai marah.
Seorang pria muncul, jangkung dan kurus, berbau bir, berambut cepak, dan memamerkan senyuman konyol. Ia memberitahuku bahwa aku baru saj melahirkan seorang bayi perempuan. Aku membalas senyumannya. Dia tentu ayahnya, pikirku, meskipun aku sama sekali
tidak mengenalnya.

